Ketika Media Sosial Membuatmu Merasa "Kurang": Mengenal Insecurity
- Irene Apriani
- Mar 14
- 3 min read

Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Seiring dengan kemajuan teknologi, kita terhubung lebih cepat dan lebih luas dengan dunia luar. Namun, di balik kenyamanan itu, ada dampak negatif yang kadang tidak disdari sehingga perlu kita perhatikan.
Hari ini, kita hidup di zaman yang sangat memuja popularitas. Bukan hanya selebgram atau influencer, hampir semua orang di media sosial ingin tampil menarik, mendapatkan banyak perhatian, dan memiliki pengikut yang banyak. Mungkin eudiance merasa, "Saya tidak ingin jadi selebgram kok," tetapi tanpa kita sadari, kita semua tetap ingin menjadi bagian dari popularitas. Coba ingat, berapa banyak dari kita yang tergoda untuk mencoba varian makanan baru yang sedang viral di TikTok? Atau, berapa banyak yang merasa penasaran dan akhirnya membeli barang yang diendorse oleh selebgram atau artis yang kita follow?
Tren sosial media semacam ini tanpa sadar seperti membuat sebuah standar tertentu yang harus diikuti. Jika kita tidak mengikuti tren, ada rasa takut tertinggal, merasa tidak relevan, atau bahkan merasa aneh dan tidak berharga. Sebaliknya, saat kita ikut tren, ada kepuasan tersendiri, seperti rasa lebih unggul dibandingkan mereka yang belum ikut serta. Perasaan seperti kita ingin merasa diterima dan diakui oleh orang lain untuk merasa bahwa diri kita berharga.
Namun, ada sesuatu yang perlu kita ingat: media sosial sering kali membentuk standar kecantikan, gaya hidup, dan bahkan keberhasilan yang tidak realistis. Sebagai contoh, bila kita tidak punya Labubu seperti yang ramai di Instagram atau TikTok maka artinya kita buruk/payah. Kita mulai merasa bahwa jika tidak sesuai dengan ‘standar’ tersebut, kita tidak cukup baik. Tapi, tahukah kamu? Tren-tren tersebut pada akhirnya akan berlalu. Apa yang populer hari ini, bisa saja sudah terlupakan besok. Jika kita selalu berusaha mengikuti tren, kita akan terjebak dalam never-ending chase, yang tak akan pernah membuat kita merasa puas.
Jika kita mendasarkan kepercayaan diri kita pada apa yang sedang tren, kita akan terus merasa kurang. Karena, seperti yang kita tahu, tren itu terus berubah. Hari ini kita merasa puas karena mengikuti tren, tapi besok sudah ada tren baru yang harus kita ikuti. Ini adalah siklus yang tak ada habisnya.
Insecurity: I am not Good Enough
Apa yang sebenarnya dimaksud dengan insecurity? Sederhananya, insecurity adalah perasaan not good enough—tidak cukup baik. Pernahkah eudiance merasa malu karena tidak memiliki sesuatu yang dimiliki teman-temanmu? Misalnya, kamu merasa canggung karena tidak punya gadget keren seperti teman-teman kamu. Atau, kamu merasa minder karena tidak bisa memainkan golf padahal banyak orang di sekitar kamu yang hobi golf. Inilah contoh sederhana dari perasaan insecure yang bisa muncul akibat perbandingan sosial.
Namun, perlu dicatat bahwa perasaan insecure itu sendiri bukanlah hal yang sepenuhnya buruk. Justru, rasa insecure bisa menjadi motivasi untuk berkembang, untuk memperbaiki diri dan mencapai tujuan yang lebih baik. Masalahnya, perasaan ini akan jadi berbahaya jika kita terus-menerus membandingkan diri kita dengan orang lain tanpa henti. Constant comparison akan membuat kita merasa selalu kurang, dan akhirnya kita mulai merendahkan diri sendiri.
Ada sebuah pepatah yang sering kita dengar: “rumput tetangga selalu lebih hijau.” Kenapa bisa demikian? Mungkin, karena kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk melihat kehidupan orang lain daripada fokus pada diri sendiri. Ketika kita terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain, kita lupa untuk merawat potensi yang ada dalam diri kita. Kita menjadi terfokus pada apa yang tidak kita miliki, sementara banyak kelebihan kita yang sebenarnya sangat berharga, jadi tertutupi.
Perbandingan yang terus-menerus akan menghambat kreativitas kita. Jika kita terus melihat apa yang orang lain punya, kita akan merasa seperti tidak ada yang spesial dari diri kita. Hal ini akan mengurangi rasa bahagia dan membuat kita merasa tidak puas dengan hidup yang kita jalani. Sebaliknya, jika kita lebih fokus pada pengembangan diri, merawat “rumput” kita sendiri, kita akan lebih bisa menemukan kebahagiaan dan potensi yang selama ini terpendam.
Friendly Reminder: Apa yang Tampil di Media Sosial Belum Tentu Sebuah Realita
Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa tidak semua yang terlihat di media sosial adalah cerminan dari realitas. Banyak dari apa yang kita lihat hanya bagian dari "highlight reel" kehidupan orang lain—bagian yang sudah dipilih dengan hati-hati untuk menunjukkan sisi terbaik mereka. Media sosial memang bisa memberi kita inspirasi, tetapi kita juga harus bijak dalam mengakses konten-konten yang ada. Ingat, kita memiliki kontrol penuh atas apa yang kita pilih untuk konsumsi. Apakah itu akan membangun kita menjadi lebih baik, atau justru menjatuhkan kita?
Oleh karena itu, penting untuk lebih kritis dan selektif dalam menggunakan media sosial. Jangan biarkan diri kita terperangkap dalam perbandingan yang tak sehat. Fokuslah pada apa yang bisa kita kembangkan dalam diri kita sendiri, daripada membandingkan diri kita dengan kehidupan orang lain yang belum tentu seperti yang kita lihat.
Pada artikel berikutnya, kita akan membahas lebih lanjut tentang tips mengatasi perasaan insecure. Stay tuned!
“The reason we struggle with insecurity is because we compare our behind-the-scenes with everyone else’s highlight reel.” Steve Furtick